Sejarah Padukuhan Mrican

Padukuhan Mrican merupakan salah satu nama padukuhan di Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

KWT Srikandi Mrican

KWT Srikandi Mrican

Asal-Usul Nama Mrican

Muh Suyudno (74) mengatakan, pada era kolonial Belanda, VOC membangun pabrik gula di wilayah padukuhan ini. Kemudian daerah yang saat ini ditempati Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), awalnya merupakan kebun tebu. Pada saat itu hanya terdapat enam rumah warga.

Banyak pohon besar yang tumbuh di Padukuhan Mrican dan terdapat tanaman lain yang menjalar di pohon-pohon besar tersebut. Ketika itu warga padukuhan belum mengetahui nama tanaman ini. Salah satu warga memberitahu bahwa tanaman itu adalah tanaman lada atau dalam bahasa Jawa adalah mrica. Akhirnya, padukuhan ini diberi nama Padukuhan Mrican.

Namun, ada juga cerita turun-temurun yang mengatakan bahwa Mrican adalah nama yang diberikan oleh orang Belanda yang bekerja di Pabrik Gula (PG) Demakijo. Jika ditulis menjadi kata Meritjan. Orang Belanda ini diyakini pernah bekerja di PG Meritjan yang berada di Jawa Timur.

Sementara itu, orang-orang dari luar Padukuhan Mrican menyakini bahwa orang pertama yang membuka pemukiman di Padukuhan Mrican adalah Kyai Guno Mrico. Maka, padukuhan ini diberi nama Mrican.

Juru Kunci Makam, Wardi Wiyono (69) bercerita, Kyai Guno Mrico adalah tokoh penting di Mataram. Dia dipercaya sebagai leluhur masyarakat Kampung Mrican. Sebagai orang pertama yang membuka kawasan Mrican. Kyai Guno Mrico memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Mataram yang berkedudukan di Kotagede. Konon setiap wilayah yang berhasil ditaklukkan akan menyerahkan perempuan-perempuan untuk dipersembahkan kepada raja. Namun, ada seorang perempuan dari wilayah taklukan sangat sulit diboyong. Kyai Guno Mrico akhirnya berhasil membawa perempuan itu dalam keadaan tidur bersama tempat tidurnya ke Keraton Kotagede. Kyai Guno Mrico menerima hadiah berupa tanah yang sekarang menjadi Kampung Mrican. Kyai Guno Mrico juga mendapat wewenang sebagai keamanan Pasar Kotagede. Ada juga cerita turun-temurun yang mengatakan bahwa sebelum diangkat sebagai abdi dalem, Kyai Guno Mrico adalah seorang begal serta teman seperguruan Panembahan Senopati. Kyai Guno Mrico dimakamkan di kampung yang juga diberi nama Kampung Mrican di Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Kawasan Kebun Tebu

Perang Jawa atau perlawanan Pangeran Diponegoro mengakibatkan Belanda bangkrut. Kebangkrutan tersebut diatasi dengan melakukan bisnis gula untuk komoditi ekspor. Pemerintahan Kolonial Belanda mendirikan sembilan pabrik gula di Yogyakarta. Perkembangan industri gula di Yogyakarta dimulai pada tahun 1870-an ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai mengesahkan Agrarische Wet.

Pengesahan undang-undang ini mengakibatkan banyak pengusaha swasta yang melakukan penanaman modal di wilayah Hindia-Belanda. Sebagian besar dilakukan di sektor pertanian dan perkebunan. PG Demakijo merupakan salah satu pabrik gula yang terletak di Kabupaten Sleman. Jaraknya kurang lebih satu kilometer dari Padukuhan Mrican.

Pada masa itu, tutur Kepala Padukuhan Mrican, Sumarji (51), sebagian wilayah Padukuhan Mrican merupakan kebun tebu dan sebagian merupakan pemukiman penduduk. Tahun 1930 terjadi krisis ekonomi yang mengakibatkan pabrik gula mengalami kerugian sehingga banyak pabrik gula yang tutup. Di Yogyakarta hanya tersisa tujuh pabrik gula yang beroperasi. Tahun 1942 tentara Jepang menjajah Indonesia dan mengambil alih pabrik gula yang masih berproduksi. Ketika Indonesia merdeka hanya tinggal empat pabrik gula yang masih beroperasi.

Pada masa Agresi Militer Belanda II pabrik-pabrik gula itu dibumihanguskan oleh TNI agar tidak dipakai sebagai markas oleh tentara Belanda. Bangunan administratur Pabrik Gula Demakijo kini sudah terbengkelai. Sementara lokasinya kini sudah beralih fungsi menjadi garasi tank milik TNI AD 403, pemukiman penduduk, dan SMA Mandala Bakti.

Pada 1944 Selokan Mataram dibangun atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setelah Selokan Mataram selesai dibangun, Belanda meninggalkan Padukuhan Mrican. Perkebunan tebu pun mulai diganti dengan tanaman padi. Saat ini Padukuhan Mrican telah berkembang menjadi padukuhan yang padat penduduknya, lahan pertanian yang terbatas tidak menjadi penghalang bagi warga Padukuhan Mrican untuk bertani.

Penulis: Tri Sumarni • Tenaga Ahli: R. Toto Sugiharto