Di tengah padatnya permukiman urban Padukuhan Mrican, Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, sebuah gerakan hijau tumbuh subur dari tangan-tangan kreatif kaum perempuan.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Mrican berhasil membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk berdaulat pangan. Melalui pemanfaatan pekarangan yang sempit secara optimal, kelompok swadaya masyarakat ini sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai Juara V dalam Lomba Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) tingkat Nasional pada tahun 2020 silam.
Langkah progresif ini diawali dengan komitmen bersama untuk menciptakan wadah produktif bagi kaum perempuan di wilayah tersebut. KWT Srikandi Mrican hadir sebagai ruang untuk bergerak aktif, menyalurkan kemampuan, sekaligus menumbuhkan berbagai inovasi di sektor pertanian perkotaan (urban farming). Program KRPL yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian diterjemahkan dengan apik melalui aksi nyata yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga.
Tiga Pilar Pemberdayaan
Keberhasilan kelompok ini tidak lepas dari konsistensi mereka dalam menjalankan tiga peran utama kelembagaan secara berkesinambungan.
Pilar pertama adalah peningkatan keterampilan anggota yang menjadi fondasi awal. Melalui pengelolaan kebun percontohan (demplot) dan pengembangan rumah bibit, para anggota dibekali pengetahuan mendalam mengenai pembibitan dan perawatan aneka sayur serta buah di lahan terbatas.
"Keterbatasan lahan urban justru memicu kreativitas. Dengan pengelolaan yang tepat, pekarangan rumah mampu bertransformasi menjadi lumbung pangan mandiri yang menopang ekonomi keluarga secara berkelanjutan."
Pilar kedua berfokus pada penguatan kelembagaan yang dijalankan melalui pendekatan internal dan eksternal. Secara internal, KWT menjadi perekat hubungan sosial dan ruang kerja sama antarwarga. Sementara secara eksternal, mereka aktif berkolaborasi dengan institusi akademis seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mendapatkan bimbingan inovasi, pelatihan teknis, serta fasilitas pendukung yang relevan.
Pilar ketiga adalah peningkatan produktivitas yang berorientasi pada skala ekonomi. Para anggota dimotivasi untuk mengelola usaha tani dengan memperhatikan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas hasil. Komoditas yang diproduksi tidak hanya dipanen mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti aneka olahan pangan basah dan kering, sambal kreatif, hingga stik sayuran yang dipasarkan secara luas untuk meningkatkan ekonomi produktif.
Dampak Nyata pada Dompet dan Gizi
Aksi nyata KWT Srikandi Mrican memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi rumah tangga anggotanya. Berdasarkan data lapangan, pemanfaatan pekarangan rumah secara mandiri terbukti mampu menekan pengeluaran belanja dapur harian secara nyata.
Tidak hanya dari sisi finansial, kesehatan keluarga juga turut meningkat. Ketersediaan sayur dan buah segar di pekarangan memastikan pasokan gizi yang bersih dan aman. Gerakan ini sekaligus menjadi sarana edukasi efektif bagi masyarakat mengenai pentingnya pemahaman pola pangan berbasis B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) dengan mengoptimalkan potensi lokal.
Efek Domino dan Partisipasi Publik
Keberhasilan KWT Srikandi Mrican kini telah bertransformasi menjadi gerakan sosial yang lebih luas di wilayah Padukuhan Mrican. Semangat bertani di lahan sempit ini berhasil memicu kepedulian sosial dan mendongkrak partisipasi aktif masyarakat secara massal.
Salah satu bukti nyata dari efek domino ini adalah penyelenggaraan perlombaan pemanfaatan pekarangan lahan terbatas yang rutin diadakan setiap dua tahun sekali. Kompetisi ini diikuti oleh 9 Rukun Warga (RW) di wilayah tersebut. Indikator penilaian perlombaan dirancang secara komprehensif, mencakup kondisi fisik pekarangan, tingkat keterampilan bercocok tanam, kreativitas pengolahan produk pascapanen, kekuatan gotong royong warga, hingga integrasi unsur kesenian lokal.
Melalui kompetisi ini, ketahanan pangan tidak lagi sekadar program pemerintah, melainkan telah melekat menjadi gaya hidup dan budaya lestari masyarakat urban Mrican.