Di balik hamparan hijau Demplot KWT Srikandi Mrican, terdapat semangat gotong royong yang terus tumbuh. Tahun 2026 menjadi momen istimewa bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Mrican karena dipercaya mewakili Kabupaten Sleman dalam Lomba Inovasi Pemanfaatan Lahan Terbatas Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY.
Lomba yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bertujuan mendorong kelompok tani dan KWT untuk mengoptimalkan lahan terbatas secara inovatif, berkelanjutan, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan KWT Srikandi Mrican di Demplot
Sejak akhir Juni hingga awal Agustus 2026, berbagai persiapan dilakukan secara intensif. Tidak hanya mempercantik area demplot, anggota KWT juga melengkapi administrasi kelompok, merawat pekarangan, serta mendokumentasikan aktivitas mereka melalui media sosial secara rutin. Seluruh proses budidaya menjadi bagian penting dari penilaian, mulai dari pembibitan, penanaman, penyiraman, pemupukan, panen, hingga pengolahan hasil pertanian dan pemasarannya.
Bagi KWT Srikandi, lomba ini bukan sekadar mengejar prestasi. Lebih dari itu, proses persiapannya telah membawa perubahan positif bagi para anggotanya. Menurut Ibu Dukuh, ibu-ibu menjadi lebih aktif mengikuti kegiatan, lebih berani mengembangkan hasil olahan pertanian, hingga mulai melihat peluang untuk memasarkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas.
"Yang paling terasa bukan hanya persiapan lombanya, tetapi bagaimana ibu-ibu menjadi lebih kompak, lebih percaya diri, dan semakin semangat mengembangkan potensi yang mereka miliki," ungkap beliau.
Partisipasi dalam lomba ini juga menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di dalam kelompok. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, anggota KWT didorong untuk lebih kreatif dalam mengolah hasil panen, memahami pemasaran produk, hingga membangun usaha yang berkelanjutan.
Keberhasilan KWT Srikandi hingga tahap ini tentu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Pemerintah Padukuhan Mrican, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman, serta BRI Peduli turut memberikan pendampingan, sarana prasarana, bibit, pupuk, greenhouse, peralatan pertanian, hingga berbagai pelatihan pengembangan kelompok. Kolaborasi ini juga diperkuat dengan keterlibatan mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada.
"Kami ingin mengajak masyarakat bahwa pekarangan, meskipun terbatas, tetap bisa menjadi peluang. Selain membuat lingkungan lebih hijau dan menghasilkan pangan, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi, dan memperkuat kebersamaan antarwarga," tutur Ibu Dukuh.